Oleh: Rudy | Agustus 22, 2007

Rekomendasi permasalahan PSK di Kota Bandar Lampung

1. Pendahuluan

 

Wajah kota Bandar lampung saat ini banyak diwarnai dengan kemacetan lalu lintas, maraknya pekerja seks komersil, anak jalanan, gelandangan dan pengemis, sampah yang berserakan dan lain sebagainya. Hal ini menjadikan kota bandarlampung tidak layak untuk menjadi ibukota provinsi.

 

Salah satu permasalahan yang perlu dicarikan solusinya adalah maraknya PSK di Bandar lampung. Saat ini PSK yang biasanya berkeliaran di sekitar jalan Yos Sudarso, kini mulai meramaikan pusat ruang publik saburai. Pusat kota yang merupakan inti dari kehidupan masyarakat kota Bandar lampung. Masalah ini bukan hanya dalam lingkup kecil buramnya wajah kota bandarlampung, lebih dari itu merupakan masalah pembangunan, kemasyarakatan, dan kesejahteraan sosial. Masalah ini harus dicari akar permasalahannya dan dicarikan solusinya.

 

2. Akar Permasalahan

 

Terdapat beberapa poin yang menjadi akar permasalahan ini yaitu:

  1. Tidak adanya lokalisasi PSK merupakan salah satu penyebab menyebarnya PSK di dalam kota bandarlampung.
  2. Pembinaan yang kurang terpadu, terarah dan berkesinambungan.
  3. Kurangnya pengaturan dan penegakan hukum.

 

3. Pembahasan

 

Pemusatan PSK pada suatu tempat atau biasa disebut lokalisasi akan menimbulkan tentangan dengan landasan pikir bahwa lokalisasi sama dengan menghalalkan praktek prostitusi di suatu daerah, namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa prostitusi tidak pernah dapat dihilangkan sama sekali.

 

Pengaturan PSK dalam suatu lokalisasi akan membawa keuntungan yang tidak sedikit apabila dibandingkan berkeliarannya PSK di berbagai sudut kota, keuntungan tersebut adalah:

 

  • Membersihkan wajah kota Bandar lampung

  • Memudahkan pembinaan PSK. Keadaan terpusat tentu saja akan memudahkan pembinaan dan dapat dilakukan secara terarah, terpusat, berkesinambungan.

  • Pelokalisasian pekerja seks komersil (PSK) dianggap mampu mengurangi peningkatan penularan virus human immunodeficiency virus (HIV) yang menyebabkan penyakit acquired immune deficiency syndrome (AIDS) melalui jalur seks komersial.

 

Dengan sejumlah peraturan pendukung seperti kewajiban penggunaan kondom, jumlah pengguna jasa PSK dapat dikurangi. Menurut Konsultan Nasional Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi di Bandung, walaupun sebagian masyarakat menilai lokalisasi sebagai pelegalan perzinaan, upaya ini dianggap mampu mengurangi peningkatan penyebaran HIV. Pelokalisasian perlu diikuti dengan peraturan lain yang membatasi risiko penularan. Nafsiah mencontohkan pemutusan penularan HIV lewat lokalisasi yang berada di Thailand. Para PSK yang biasa beroperasi di jalanan diharuskan masuk lokalisasi. Selanjutnya, lelaki yang hendak menggunakan jasa para PSK di lokalisasi itu diwajibkan memakai kondom. Jika mereka menolak akan dikenakan sanksi karena dianggap menularkan HIV.

 

PSK jalanan yang menjadi salah satu potensi tersebarnya HIV/AIDS keberadaannya tidak terkontrol dan terawasi Selain itu Kendala utama sulitnya pengawasan dan pembinaan PSK jalanan adalah mobilitas mereka yang sangat tinggi. Dengan demikian lokalisasi tentunya akan memudahkan pembinaan PSK dan mengurangi potensi penyebaran penyakit kelamin. Lokalisasi inipun haruslah terencana dengan baik, mulai dari penempatannya yang jauh dari pusat kota, pengadaan fasilitas kesehatan dan pusat pembinaan keterampilan. pelatihan keterampilan tersebut antara lain seperti menjahit, jasa boga, merias, selain itu di pusat pembinaan itu juga terdapat bimbingan soal etika sosial, agama,

 

Pembinaan harus terus dilakukan oleh pihak-pihak terkait dan harus dilaksanakan secara terarah, terpadu dan berkesinambungan. Akan sangat baik bila dalam lokalisasi terdapat tempat pembinaan keterampilan, sehingga PSK dapat dengan cepat mengakses tempat pembinaan keterampilan, tidak harus menuju tempat pembinaan yang adanya cukup jauh dari tempatnya bermukim.

 

Pembinaan ini harus dilakukan secara terpadu melibatkan berbagai unsur baik unsur pemerintah maupun LSM. Sehingga lambat laun para PSK akan meninggalkan pekerjaannya sebagai PSK dan mulai melakukan pekerjaan halal yang keterampilannya didapat dari pusat pembinaan keterampilan.

 

Bagi para pekerja seks komersial (PSK), tidak cukup bagi mereka hanya mendapatkan pembinaan mental dan berbagai pelatihan ketika sedang menjalani pendidikan di sebuah lembaga sosial. Kalau kurang pas penyalurannya, tidak menutup kemungkinan mereka kembali menjadi pekerja seks di jalanan.

 

Di banjarmasin, yang dilakukan Pemko terutama Disospora untuk membina PSK belum mampu menerapkan seperti yang tertuang dalam Perda No 6/2001 dan selalu dihadapkan pada persoalan klasik kesulitan dalam hal pembinaan. Sampai sekarang daerah ini hanya memiliki satu panti sosial untuk PSK yakni Panti Melati milik Pemerintah Propinsi di Landasan Ulin, Banjarbaru, sedang Pemko Banjarmasin belum memiliki panti yang diurusi secara otonomi, akibatnya tak jarang PSK yang dioperasi tak kebagian tempat di panti rehabilitasi. Selain itu terbatasnya fasilitas penunjang dan metode pembinaan mempunyai, pengaruh yang sangat besar pada pembinaan PSK. Seringkali upaya pembinaan ini tidak berjalan karena, setelah didata para PSK dibiarkan kembali pulang, tanpa ada pengawasan lebih lanjut. Sehingga tak heran kalau mereka tetap saja kembali pada profesi asalnya.

 

4. Kesimpulan

 

Perlunya pemusatan PSK dan pembinaan ketermpilan bagi para PSK sangat baik jika dituangkan dalam suatu peraturan daerah dimana di dalamnya diatur mengenai hal2 mengenai lokalisasi dan pembinaan, penyaluran PSK yang berketerampilan dalam berbagai pekerjaan.

 

Perda tersebut bukan dimaksudkan untuk melegalkan prostitusi tetapi melokalisir. Lokalisasi itu lain dengan legalisasi yang berarti membenarkan PSK berkeliaran di jalanan. Nantinya, para PSK di lokalisasi diberdayakan sehingga nantinya bisa terlepas dari lingkaran kehidupan tersebut. Sebagai bahan masukan di beberapa daerah telah terdapat perda mengenai prostitusi antara lain banjarmasin, bengkulu, Surabaya sedang di lumajang dan pamekasan perda serupa sedang diusulkan.

 

 


Responses

  1. gagasan yang sangat menarik mas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: