Oleh: Rudy | Agustus 17, 2007

Unila Menuju BHMN

 

Tulisan rekan Robi Cahyadi K di harian Radar Lampung berjudul Menuju Unila Baru mengisyaratkan bahwa penerapan konsep BHPT akan menjadikan masa depan unila cerah dan berprospek. Terlebih lagi beliau dengan baiknya menyampaikan sisi baik dari konsep BHPT ini dan bagaimana cara mencapainya mengacu pada pengalaman universitas-universitas dan institut-institut yang sudah terlebih dahulu melaksanakannya yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Pertanian Bogor. Pandangan ini tentu saja sangat menarik dan sebagai warga unila dan bagian dari masyarakat lampung, penulis merasa perlu untuk menanggapi tulisan beliau hal ini demi kemaslahatan universitas lampung sendiri pada khususnya dan juga masyarakat lampung pada umumnya. Tidak ada yang salah dengan tulisan beliau, namun demikian pelaksanaan konsep BHPT oleh suatu universitas tidaklah semudah yang dibayangkan.

Konsep BHPT muncul seiringan dengan konsep otonomi yang bagi sebagian orang termasuk penulis sendiri begitu indah, otonomi paling tidak secara teori akan memberikan suatu keleluasaan dalam suatu manajemen untuk menyesuaikan dengan kapasitas dan kondisi yang ada baik itu manajemen pemerintahan, perusahaan, maupun juga universitas. Salah satu dari dimensi dari otonomi adalah privatisasi dan ini pulalah yang melandasi konsep BHPT perguruan tinggi sebagai pengejawantahan dari konsep otonomi pendidikan. BHPT sendiri apabila kita cermati bersama merupakan suatu privatisasi perguruan tinggi.

Privatisasi selain akan membawa dampak positif berupa efisiensi dan efektifitas, juga mensyaratkan adanya kemampuan untuk melakukan pembiayaan sendiri. Dengan demikian privatisasi perguruan tinggi dalam konsep BHPT secara otomatis mensyaratkan kemampuan suatu perguruan tinggi untuk melakukan pembiayaan sendiri. Tentu masalah pembiayaan sendiri akan membawa perubahan-perubahan dalam tubuh perguruan tinggi itu sendiri. Jika Unila dengan rektor baru Prof. Sugeng P Harianto bersungguh-sungguh dengan konsep BHPT ini, Unila harus siap untuk melakukan upaya pembiayaan sendiri tanpa harus mengorbankan masyarakat luas pada umumnya dan generasi penerus bangsa dalam bentuk kenaikan biaya kuliah.

Belajar dari pengalaman UI dan UGM sebagaimana dikemukakan rekan Robi Cahyadi K dengan cara melakukan subsidi silang dan pembebanan biaya lain-lain di luar SPP tampaknya merupakan suatu solusi yang menggiurkan tapi apakah kebijakan ini tidak mengakibatkan dampak-dampak yang seharusnya dihindari oleh dunia pendidikan. Penulis masih ingat bagaimana UI dalam tahun-tahun pertama melakukan persiapan menjadi BHMN mengakibatkan dampak yang menyedihkan bagi dunia pendidikan. Saat itu penulis merupakan mahasiswa tahun pertama di salah satu fakultas di UI.

Kebijakan pertama yang diambil tidak lain adalah menaikkan biaya kuliah, tentu saja saat itu SPP tetap namun terdapat dana baru bernama dana peningkatan kualitas pendidikan (DPKP) yang besarannya hampir dua kali lipat dari SPP tahun tersebut. Bisa dibayangkan dampaknya bagi mahasiswa yang mempunya perekonomian rata-rata, belum lagi ditambah dengan biaya hidup, biaya buku, biaya tempat tinggal dan lain sebagainya. Pada tahun tersebut masih begitu banyak mahasiswa UI dari berbagai daerah dengan tingkatan ekonomi yang beragam. Tentunya bagi mahasiswa dengan perekonomian yang mapan, perubahan biaya pendidikan merupakan sesuatu yang bisa dimaklumi, namun bagaimana dengan mahasiswa dengan perekonomian pas-pasan. Euforia reformasi dengan tuntutan pendidikan murah untuk rakyat yang disuarakan oleh mahasiswa itu dengan sendirinya menjadi senjata yang menusuk mahasiswa itu sendiri.

Kebijakan kenaikan biaya kuliah ini memang disertai dengan adanya keringanan biaya kuliah namun tentu saja ini harus melalui prosedur dan syarat-syarat tertentu dan tidak semua mahasiswa dengan perekonomian pas-pasan dapat mendapatkan keringanan ini. Yang harus dipikirkan adalah efek lanjutan dari kebijakan kenaikan biaya kuliah disertai sistem subsidi silang ini yang tidak terlihat dan diperhatikan oleh kalangan universitas.

Efek tersebut adalah seleksi alam yang pada akhirnya akan menempatkan BHMN atau BHPT menjadi perguruan tinggi yang didominasi oleh kalangan mampu. Efek ini bukanlah sesuatu yang dibesar-besarkan karena selama 3 1/2 tahun penulis menjadi mahasiswa di UI, penulis melihat bahwa terjadi penurunan mahasiswa dengan perekonomian pas-pasan di UI. Saat ini pun mahasiswa UGM tidak bisa menyebut UGM sebagai universitas wong cilik sebagaimana yang biasa disuarakan oleh mahasiswa UGM sebelum menjadi BHMN.

Sehubungan dengan ini perlu dicatat bahwa kenaikan biaya pendidikan akan menempatkan Unila pada posisi kompetisi yang sangat sengit dengan perguruan tinggi lain yang mempunyai kualitas sama namun berbeda biaya. Sangat rasional jika kemudian calon mahasiswa memilih perguruan tinggi yang lebih murah biaya namun berkualitas sama atau memilih perguruan tinggi dengan kualitas lebih baik dengan biaya yang sama. Tentu saja kondisi ini berkaitan dengan sejauh mana kapasitas dan kualitas Unila dalam menjawab pilihan di atas. Pengembangan kapasitas dan kualitas dosen merupakan tugas pertama selain peningkatan fasilitas pendidikan yang bisa bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.

Pengembangan unila sebagai sentra bisnis atau penggalangan kerjasama dengan pihak ketiga membutuhkan kesiapan Unila untuk menjawab tuntutan tersebut. Apakah warga Unila dalam hal ini dosen, karyawan, peneliti, alumni, serta mahasiswa dapat memberikan sesuatu dalam pengembangan sentra bisnis dan kerjasama dengan pihak ketiga. Jika kemudian pihak Unila tidak mampu menjawab tuntutan tersebut, sangat rasional jika kemudian sentra bisnis tersebut terseok-seok dan bukannya memberikan keuntungan, namun malah menguras keuangan Unila.

Harus diingat bahwa pengembangan bisnis membutuhkan biaya dan tentu saja itu akan diambil dari pundi-pundi Unila. Selain itu pihak katiga juga mempunyai jalan pikiran yang rasional dimana kerjasama tersebut harus menguntungkan bagi mereka. Proses ini semua tidaklah semudah menuliskan opini di secarik kertas namun membutuhkan perhitungan dan strategi pelaksanaan yang jitu.

Faktor penting lainnya adalah kesiapan tiap-tiap fakultas dan program studi dalam menjalani proses menuju BHPT perguruan tinggi. BHPT perguruan tinggi sebagai perwujudan otonomi akan menghasilkan tingkatan pencapaian yang berbeda-beda untuk tiap fakultas dan program studi. Dalam hal ini fakultas-fakultas dan program-program studi sudah harus mengetahui keunggulan di bidangnya masing-masing.

Hal ini membutuhkan kultur kerjasama yang baik antara dosen di tiap fakultas dan program studi, kemampuan riset dosen dan peneliti yang dibutuhkan oleh pihak ketiga, fasilitas riset yang memadai, serta yang tidak kalah pentingnya adalah iklim kondusif untuk maju bersama tanpa saling menjatuhkan. Perlu diingat bahwa sebelum beralih menjadi BHMN, fakultas-fakultas di Universitas Indonesia telah mempunyai kapasitas yang memadai ditunjang oleh lembaga-lembaga riset semi independen yang diarsiteki oleh dosen dan peneliti yang memang ahli di bidangnya.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk menghalangi Unila untuk menjadi BHPT, namun mengingatkan bahwa jalan menuju BHPT tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat dampak-dampak yang jika tidak diantisipasi terlebih dahulu akan menjadi senjata makan tuan bagi Unila. Terlebih lagi dampaknya terhadap masa depan pendidikan generasi penerus bangsa khususnya di Lampung. Tidaklah lucu jika Unila yang pada dasarnya milik masyarakat Lampung pada akhirnya tidak dapat mendidik calon-calon pondasi Lampung pada masa yang akan datang dikarenakan biaya pendidikan yang mahal. Jika memang peralihan menjadi BHPT merupakan kondisi yang mau tidak mau harus dilaksanakan, tentu antisipasi dampak negatif dan persiapan yang diperlukan harus dimulai dari sekarang dengan strategi yang rasional dan jitu.


Responses

  1. Unila ke BHMN?
    Hati-hati 5 PT BHMN sekarang pun kembang kempis memenuhi biaya pendidikan. Lebih baik Unila kembangkan program diploma yang dibutuhkan Lampung dulu. Tingkatkan pendapatan Unila melaui diploma.

    BHMN ini adalah hasil privatisasi akibat perjanjian dengan IMF. So ga usah buru-buru ke BHMN.

    Salam Lempok,
    Bang Lempok

  2. emang bener banyak faktor yang harus di pertimbangkan sebelum unila menjadi PT ber-BH karena tidak semudah yang dibayangkan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: