Oleh: Rudy | Maret 25, 2008

PEMBENTUKAN PERATURAN DESA

Peraturan Desa ditetapkan oleh kepala desa setelah mendapat persetujuan bersama Badan Perwakilan Desa, yang dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi desa. Perdes merupakan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing desa. Sehubungan dengan hal tersebut, sebuah Perdes dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.Dalam konsep negara hukum yang demokratis keberadaan peraturan perundang-undangan, termasuk Peraturan Desa dalam pembentukannya harus didasarkan pada beberapa asas. Menurut Van der Vlies sebagaimana dikutip oleh A. Hamid S. Attamimi membedakan 2 (dua) kategori asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang patut (beginselen van behoorlijk rcgelgeving), yaitu asas formal dan asas material. Asas-asas formal meliputi:
  1. Asas tujuan jelas (Het beginsel van duideijke doelstellin)
  2. Asas lembaga yang tepat (Het beginsel van het juiste orgaan)
  3. Asas perlunya pengaturan (Het noodzakelijkheid beginsel)
  4. Asas dapat dilaksanakan (Het beginsel van uitvoorbaarheid)
  5. Asas Konsensus (het beginsel van de consensus)

Asas-asas material meliputi:

  1. Asas kejelasan Terminologi dan sistematika (het beginsel van de duiddelijke terminologie en duidelijke systematiek).
  2. Asas bahwa peraturan perundang-undangan mudah dikenali (Het beginsel van den kenbaarheid)
  3. Asas persamaan (Het rechts gelijkheids beginsel)
  4. Asas kepastian hukum (Het rechtszekerheids begin sel)
  5. Asas pelaksanaan hukum sesuai dengan keadaan individual (Het beginsel van de individuelerechtsbedeling)

Asas-asas ini lebih bersifat normatif, meskipun bukan norma hukum, karena pertimbangan etik yang masuk ke dalam ranah hukum. Asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan ini penting untuk diterapkan karena dalam era otonomi luas dapat terjadi pembentuk Peraturan Desa membuat suatu peraturan atas dasar intuisi sesaat bukan karena kebutuhan masyarakat. Pada prinsipnya asas pembentukan peraturan perundang-undangan sangat relevan dengan asas umum administrasi publik yang baik (general principles of good administration).

Dalam pasal 5 UU Nomor 10 tahun 2004 Juncto Pasal 137 UU Nomor 32 tahun 2004 diatur bahwa Peraturan Daerah yang di dalamnya termasuk adalah Peraturan Desa dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang meliputi:

  1. kejelasan tujuan: yaitu bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.
  2. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; yaitu adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum, apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang.
  3. kesesuaian antara jenis dan materi muatan; bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. Perundang-undangannya.
  4. dapat dilaksanakan; yaitu bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundang-undangan tersebut di dalam masyarakat, baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis.
  5. kedayagunaan dan kehasilgunaan; yaitu bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  6. kejelasan rumusan; yaitu bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan, sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.
  7. Keterbukaan: yaitu bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan, dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan.

Selain asas tersebut di atas, dalam pembetukan peraturan perundang yang sifatnya mengatur, termasuk peraturan daerah, juga harus memenuhi asas materi muatan sebagaimana diatur dalam pasal 6 UU Nomor 32 tahun 2004 juncto pasal 138 UU nomor 32 tahun 2004, yang meliputi:

  1. asas pengayoman yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat.
  2. asas kemanusiaan yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional.
  3. asas kebangsaan yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia.
  4. asas kekeluargaan yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.
  5. asas kenusantaraan yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila.
  6. asas bhinneka tunggal ika yaitu bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  7. asas keadilan yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali.
  8. asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender, atau status sosial.
  9. asas ketertiban dan kepastian hokum yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum.
  10. asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan yaitu bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara.

Berkaitan dengan asas-asas materi muatan tersebut, ada sisi lain yang harus dipahami oleh pengemban kewenangan dalam membentuk Peraturan Desa. Pengemban kewenangan harus memahami segala macam seluk beluk dan latar belakang permasalahan dan muatan yang akan diatur oleh Peraturan Desa tersebut. Hal ini akan berkait erat dengan implementasi asas-asas tersebut di atas.

Dalam proses pembentukannya, Peraturan Desa membutuhkan partisipasi masyarakat agar hasil akhir dari Peraturan Desa dapat memenuhi aspek keberlakuan hukum dan dapat dilaksanakan sesuai tujuan pembentukannya. Partisipasi masyarakat dalam hal ini dapat berupa masukan dan sumbang pikiran dalam perumusan substansi pengaturan Peraturan Desa. Hal ini sangat sesuai dengan butir-butir konsep sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Sudikno Mertokusumo bahwa hukum atau perundang-undangan akan dapat berlaku secara efektif apabila memenuhi tiga daya laku sekaligus yaitu filosofis, yuridis, dan sosiologis. Disamping itu juga harus memperhatikan efektifitas/daya lakunya secara ekonomis dan politis.

Masing-masing unsur atau landasan daya laku tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) landasan filosofis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah jangan sampai bertentangan dengan nilai-nilai hakiki ditengah-tengah masyarakat, misalnya agama dan adat istiadat; (2) daya laku yuridis berarti bahwa perundang-undangan tersebut harus sesuai dengan asas-asas hukum yang berlaku dan dalam proses penyusunannya sesuai dengan aturan main yang ada. Asas-asas hukum umum yang dimaksud disini contohnya adalah asas “retroaktif”, “lex specialis derogat lex generalis”; lex superior derogat lex inferior; dan “lex posteriori derogat lex priori”; (3) produk-produk hukum yang dibuat harus memperhatikan unsur sosiologis, sehingga setiap produk hukum yang mempunyai akibat atau dampak kepada masyarakat dapat diterima oleh masyarakat secara wajar bahkan spontan; (4) landasan ekonomis, yang maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh Pemerintah daerah dapat berlaku sesuai dengan tuntutan ekonomis masyarakat dan mencakup berbagai hal yang menyangkut kehidupan masyarakat, misalkan kehutanan dan pelestarian sumberdaya alam; (5) landasan politis, maksudnya agar produk hukum yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dapat berjalan sesuai dengan tujuan tanpa menimbulkan gejolak ditengah-tengah masyarakat.

Tidak dipenuhinya kelima unsur daya laku tersebut diatas akan berakibat tidak dapat berlakunya hukum dan perundang-undangan secara efektif. Kebanyakan produk hukum yang ada saat ini hanyalah berlaku secara yuridis tetapi tidak berlaku secara filosofis dan sosiologis. Ketidaktaatan asas dan keterbatasan kapasitas daerah dalam penyusunan produk hukum yang demikian ini yang dalam banyak hal menghambat pencapaian tujuan otonomi daerah. Dalam hal ini, keterlibatan masyarakat akan sangat menentukan aspek keberlakuan hukum secara efektif.

Roscoe Pound (1954) menyatakan bahwa hukum sebagai suatu unsur yang hidup dalam masyarakat harus senantiasa memajukan kepentingan umum. Kalimat “hukum sebagai suatu unsur yang hidup dalam masyarakat” menandakan konsistensi Pound dengan pandangan ahli-ahli sebelumnya seperti Erlich maupun Duguit. Artinya hukum harus dilahirkan dari konstruksi hukum masyarakat yang dilegalisasi oleh penguasa. Ia harus berasal dari konkretisasi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Kemajuan pandangan Pound adalah pada penekanan arti dan fungsi pembentukan hukum. Disinilah awal mula dari fungsi hukum sebagai alat perubahan sosial yang terkenal itu.

Dari pandangan Pound ini dapat disimpulkan bahwa unsur normatif dan empirik dalam suatu peraturan hukum harus ada; keduanya adalah sama-sama perlunya. Artinya, hukum yang pada dasarnya adalah gejala-gejala dan nilai-nilai yang dalam masyarakat sebagai suatu pengalaman dikonkretisasi dalam suatu norma-norma hukum melalui tangan para ahli-ahli hukum sebagai hasil rasio yang kemudian dilegalisasi atau diberlakukan sebagai hukum oleh negara. Yang utama adalah nilai-nilai keadilan masyarakat harus senantiasa selaras dengan cita-cita keadilan negara yang dimanifestasikan dalam suatu produk hukum.

About these ads

Responses

  1. trimakasih karna telah buat tulisan tentang pembentukan Peraturan Desa, karena sekarang para pakar sibuk mengurus persoalan yang hanya berskala Nasiona dan mengabaikan hal hal yang berguna bai daerah.

  2. kita masih membutuhkan uraian detail proses penyusunan rancangan perdes versi modul pembelajaran

  3. berarti bgt, sebab saya emang lg nyari referensi bt bikin Perdes

  4. to Desriandi, SH: Bener pak kalo saat ini aspek nasional lebih rame sedangkan hal yang seperti ini kurang mendapat perhatian; padahal masyarakat desa bahkan carik desa banyak yang ndak bisa untuk merancang peraturan desa.

    to wrin: Wah saya kira ide bagus itu untuk buat modul pembelajarannya.

    to Norman: saya senang kalo tulisan saya ini berguna untuk pak norman

  5. thank you muchly for the insight.. truly brought enlightment for my works in such tight deadline..
    best wishes to you pak!

  6. saya sedang membuat tugas tentang inkonsistensi peraturan perundang-undangan. Kira-kira referensi yang perlu saya cari apa?

  7. Wow, your article “Pembetukan Peraturan Desa”, so inspiring and stimulating, pa. Rudy. See you then in the next article.

  8. terima kasih banyak pak, tulisan bapak memberi saya inspirasi tentang pembentukan peraturan desa karena memang belum banyak literatur tentang peraturan desa.

    • sama-sama yah anita, saya juga baru menyadari akhir2 ini kalau banyak ahli hukum kita lebih fokus kepada masalah nasional padahal hal yang menyangkut lokalitas lebih membutuhkan concern dan perhatian yang lebih spesifik karena keunikannya…

  9. terima kasih pak atas tulisannya, saya boleh minta judul refrensi yang dapat saya gunakan buat nyusun skripsi tentang peraturan desa? kalau bapak berkenan mohon dikirim ke email saya:
    nonny.koli@yahoo.co.id. terima kasih

  10. Mas, mohon izin tulisan ini saya tampilkan di blog saya: http://syukriy.wordpress.com.

    Terima kasih. Semoga sukses selalu.

    • Silahkan Pak Syukri dengan tetap mengindahkan aturan akademik.

  11. pembentukan perdes masih jauh dari harapan, kades, sekdes,anggota BPD dan masyarakat belum ngerti bahwa roda pemerintahan desa didasarkan pada perdes tapi dalam kehidupan sehari-hari ada ngak sih perdes itu, pembentukannya amburadul, pengawasan ngak ada jadi perdes hanya kata2 ngak ada makna, cuma asap belaka ngakl ada manfaat apa2 bagi kesejahteraan masyarakat…..

    • ya saya juga sependapat dengan anda

    • saya setuju dengan pendapat mas iwan banyak desa sama sekali tak tau bikin perdes dan semuanya cuman bikin bingung aja perdes dak diberlakukn

  12. Terima kasih, saya sangat terbantu dengan tulisan anda

  13. tulisannya tentang pemerintahan desa ok, juga. walaupun sebenarnya yang diperlukan juga adanya transfer SDM bagi aparat desa, biar sistem berjalan dan tau bahwa yang anggaran dikelola sekarang juga anggaran negara.

    • terima kasih atas sarannya pak bambang :)

  14. wah bagus bgt ni artikelnya…. pak saya bisa diberitahu tentang aturan konservasi? n mohon untuk di post pada blog saya? gmana pak?

    • silahkan di manfaatkan dengan tetap menekankan aspek copyright

  15. tanks y pak,karna anda saa mengetahui banyak tentang perturan desa ,dan saya berharap dengan tulisan anda semua orang bahkan mungkin semua aparat desa bisda bekerja dengan sungguh2 dalam menjalankan tugasnya

  16. ini merupakan sebuah upaya positif dan menarik jika dapat diterapkan dan diambil manfaatnya oleh pelaku desa. kenapa harus ditentang jika sesungguhnya hasil pemikiran dapat dinikmati publik.setuju dan perlu terus disuarakan

  17. Terima Kasih atas karya tulisnya yang dapat Saya buat referensi. kalau ada dan boleh Saya minta contoh-contoh Peraturan Desa antara TENTANG dan KONSIDERAN-nya, terim’s

  18. GOOG.. TOP BGT
    tlong donk krikim ke emailku tentang Perdes yang sudah dibuat, biar kami bisa buat.
    maturnumuwun
    kami dari bengkulu lho

  19. Ass pak.saya dari Desa Sungai Selari Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau. ada gak contoh PerDes yang sudah baku?

  20. Bahan yang ditulis ini sangat bermanfaat bagi pekerjaan yang saya jalani sekarang. Terima kasih.

  21. Insya Allah saya ikuti terus blog ini untuk mengetahui perkembangan ilmu hukum. Sekali lagi terima kasih.

  22. Pa Bagaimana Contoh Pembentukan Peraturan Desa secara spesifiknya dan tips khususnya seperti apa. Ditunggu jawaban nya dari teman2. Thnx

    • Untuk pertanyaan yang spesifik bisa langsung ke email saya di contact me page, kadang saya terlewat jika Hanya di komentar. Insya Allah akan saya jawab dan bantu sebisa mungkin

  23. saya lagi memfasilitasi pembentukan BUMDes dengan unit usahanya. pada akhirnya Bumdes ini nt akan di perdeskan. ada sebuah unit usaha yang ingin bergabung dengan Bumdes, tapi para pengelolanya minta unit usahanya di perdeskan juga. usul saya ke mereka siy..perdesnya cukup 1 di BUMDes saja, unit usaha ikut didalamnya. tapi mereka bertanya mengapa demikian ada aturannyakah? menurut anda bgmna masalah ini? apakah boleh dalam satu lembaga ada 2 perdes, atau cukup 1 saja?

    • Sebaiknya dua lembaga tersebut diatur dalam dua aturan hukum (perdes) yang berbeda agar tidak saling tumpang tindih pengaturannya.

      • alhamdulillah.dan trimakasih pak.dg ini saya tambah sdikit tau dan akan saya pelajari.karna di desa saya desa purworejo kecamatan kandat kabupaten kediri dlm peraturan
        1.tidak melibatkan bagi kami/saya yg bertempat tinggal dlm lingkungan pasar.padahal dr kami lingkungan pasar tersebut sangat terkena dampak secara langsung.apalagi dlm pembangunan pasar tersebut.bagi kami/saya yg bertempat tinggal dlm lingkungan pasar tersebut sangat memberatkan bagi penghuni dipasar tersebut.
        2.Keterbukaan: yaitu bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan, dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan.

  24. Pak, boleh saya minta contoh perdes tentang desa wisata budaya?

  25. Syùkùrlåh akù biså mèngèrti dengan atùran desa bgibär jadi bekal åntì…tq

  26. cukup komprehensif untuk dipakai sebagai bahan tulisan saya tentang “industrialisasi” atau “membangun dari desa”. terima kasih boleh membacanya.

  27. Alhamdulillah sy temukan petunjuk utk pembuatan Peraturan Desa (Perdes). Sy adalah ketua BPD Panggung, kecamatan Pelaihari, kabupaten Tanah Laut, Propinsi Kalimantan Selatan. Saya ingin bertanya peraturan apa saja yg bisa dibuatkan Perdes nya. Bagaimana prosedurnya sampai terbentuknya perdes tersebut?

  28. slmat sore pak, apa prsaratan yg hrs di penuhi, jika suatu daerah di mekar kan? trimksih.

  29. hatur nuhun pisan kang, kaleresan dilembur abdi nuju meneliti perdes yang meninggalkan aspek sosiologi, jadi masyarakat menolak perdes dan perda……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: