Dalam satu bulan terakhir ini, saya menemukan ada 3 hal penting yang harus diperhatikan oleh seseorang untuk menjadi seorang scholar. 3 hal ini menjadi sangat penting bagi saya karena keinginan saya yang besar untuk menjadi scholar, sejak keputusan besar saya untuk meninggalkan dunia praktisi ke akademis, 3 hal ini paling tidak akan berpengaruh besar terhadap hidup saya. 3 hal itu adalah:
1. Originality
Saya dapat ini dari sensei yang dengan tersenyum mengatakan, “Saya sangat tertarik dengan originality yang kamu paparkan dalam paper kamu ini”. Pernyataan ini begitu mendalam bagi saya dan menyadarkan saya betapa pentingnya originality bagi seorang scholar untuk exist.
Lama sekali saya tidak mendengar kata ini, dan ternyata setelah saya tarik ke belakang perjalanan hidup saya-originality ini juga pernah dinyatakan oleh Prof. Muhajir Utomo. Saat itu beliau mengatakan bahwa penting bagi kita untuk menekuni bidang tertentu sehingga kita bisa menjadi spesialis. SWaktu saya mengartikan itu sebagai anjuran untuk menjadi seorang spesialis di bidang tertentu.
Namun setelah saya mendengar pernyataan sensei saya tersebut tadi, saya sadar bahwa originality itu harus melekat seutuhnya kepada seorang scholar dan tidak hanya berlaku bagi bidang yang kita tekuni tetapi juga originality dalam hal karya kita, pemikiran, perspektif. Hal ini akan membuat kita bisa berdiri tegak sebagai seorang scholar.
Karena originality pula-lah para scholar mendapat pengakuan yang luas akan keberadaan ilmunya-sebutlah Putnam dengan civic engagementnya, Lijphart dengan political institutionnya, bahkan sensei pun dikenal di dunia akademisi karena originality dalam bidang dan karya sehubungan dengan Law institution in Transition Economies-nya.
2. Jadilah penganut aliran tertentu
Yang ini jangan diartikan macam2 karena susah saya mencari padanan bahasa indonesia-nya. Hal ini berawal dari pembicaraan ringan dengan Philipino sisters and Nixon, waktu itu saya menanyakan apakah artinya Hard Core Institutionalist yang sering ditujukan oleh Takahashi Sensei (Prof di bidang political development) kepada Tatebayashi Sensei(Prof di bidang public administration) ?–saya memahami konsep instutionalist tapi Hard Core Institutionalist?
Martina mengatakan bahwa itu artinya adalah Hard Supporter of Institutionalist dan Melissa memotong “a true believer” dan setelah kami berdebat, kemudian saya mengerti karena saya pernah diskusi dengan Hard Core institutionalist tersebut. Dalam pengertian saya Hard Core Institutionalist adalah seorang yang selalu mendasarkan diri pada pandangan institutionalism no matter what, ia hanya mengetahui bahwa suatu kondisi dihasilkan karena adanya pengaruh institusi tanpa mau memandang faktor di luar institusinya-baginya pembentukan institusi akan menghasilkan efek yang bisa diprediksikan berdasarkan sebab akibat, hubungan-hubungan tertentu.
Kemudian saya bertanya kepada martina, so what is your style? Dia bilang dia prefer pendekatan yang dipakai putnam yaitu menjelaskan penomena tertentu dari data statistic karena baginya pendekatan ini lebih dapat diukur dan nyata. Lain martina lain nixon, dia bilang dia selalu berpikir dalam framework international cooperation entahlah sebutannya apa.
Tidak perlu memperpanjang cerita mengenai hal tersebut, yang saya ambil dari perdebatan dan obrolan mengenai Hard Core Institutionalist ini adalah bahwa seorang scholar mempunyai kecenderungan untuk menganut pendekatan tertentu yang disukainya dan sesuai dengan alur pikirnya. Pendekatan ini begitu penting baginya karena merupakan pedoman, pegangan, dasar, starting point untuk menjelaskan penomena tertentu. Tatebayashi Sensei pernah ngomong bahwa baginya pendekatan kombinasi akan selalu mempunyai kelemahan yang besar dan itu menjelaskan framework beliau dalam berpikir dan analisa.
Ini membuat saya berpikir bahwa seorang scholar harus mempunyai framework tertentu yang akan menjadi garis pemikirannya dan ini sesuatu yang sangat penting. Melihat ke dalam pikiran saya sendiri, saya kadang melihat diri saya sebagai seorang institutionalist meskipun tidak sampai menjadi Hard Core Institutionalist.
3. Peganglah jati diri scholar kapanpun dan dimanapun
Prinsip ini saya dapat setelah saya mengunjungi Kamagasaki, salah satu tempat kumuh di osaka. Saat itu saya menjadi volunteer untuk membantu dan memahami keadaan daerah kumuh kamagasaki.
Alexander Sensei menyatakan saat itu bahwa kita sebagai seorang scholar akan selalu dilihat oleh lain sebagai seorang scholar, oleh karena itu ketika kita menjadi activist–jangan sampai keadaan mempengaruhi pemikiran kita sebagai seorang scholar dan ketika kita selesai dari kegiatan kita sebagai seorang activist-kita harus mampu menjelaskan penomena kita tanpa melibatkan perasaan dan menjunjung kerangka2 ilmiah.
Ketika kita berkata dan menganalisa, orang akan melihat kita sebagai seorang scholar dan prinsip ini harus kita pegang jika ingin menjadi seorang scholar yang baik
3 hal tersebut merupakan hal penting yang menurut saya penting untuk selalu diingat dan diperkaya.
Mikage, 17 Mei 2006





